Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
MURIANEWS, Kudus – Vaksin Nusantara yang dirancang mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama tim penelitinya, disebut bisa menjadi booster vaksin Covid-19 yang ada. Itu terungkap dalam diskusi virtual dengan topik ‘Merindukan Vaksin Nusantara’.
Tim Peneliti Vaksin Nusantara Mayor Jendral TNI (Purn) dr. Daniel Tjen mengatakan ada laporan terbaru tentang Pfizer yang menggunakan platform mRNA. Dari laporan itu disebutkan vansin Covid-19 berbasis mRNA tersebut mengalami penurunan antibody dalam waktu tujuh bulan setelah penyuntikan.
“Kalau kita lihat lagi laporan terbaru, ternyata antibodi yang dihasilkan pasca vaksinasi termasuk yang menggunakan platform mRNA bikinan Pfizer juga setelah 7 bulan ternyata kadar antibodi spike-nya tidak terdeteksi karena memang mekanisme kerjanya berbeda,” kata Daniel Tjen, Rabu (6/10/2021).
Daniel menjelaskan, berbeda dengan vaksin Covid-19 yang ada, Vaksin Nusantara yang dikembangkan saat ini berbasis sel dendritik. Platform ini lebih banyak mengacu pada sel T memori. Inilah yang membuatnya berharap, vaksin Nusantara digunakan sebagai booster atau suntikan ketiga vaksin Covid-19.
Meski begitu, Covid-19 merupakan virus baru, sehingga belum bisa dibandingkan maupun ditentukan vaksin-vaksin mana yang paling baik.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News




Ilustrasi warga mengikuti vaksinasi . (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)[/caption]
MURIANEWS, Kudus – Vaksin Nusantara yang dirancang mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama tim penelitinya, disebut bisa menjadi booster vaksin Covid-19 yang ada. Itu terungkap dalam diskusi virtual dengan topik ‘Merindukan Vaksin Nusantara’.
Tim Peneliti Vaksin Nusantara Mayor Jendral TNI (Purn) dr. Daniel Tjen mengatakan ada laporan terbaru tentang Pfizer yang menggunakan platform mRNA. Dari laporan itu disebutkan vansin Covid-19 berbasis mRNA tersebut mengalami penurunan antibody dalam waktu tujuh bulan setelah penyuntikan.
“Kalau kita lihat lagi laporan terbaru, ternyata antibodi yang dihasilkan pasca vaksinasi termasuk yang menggunakan platform mRNA bikinan Pfizer juga setelah 7 bulan ternyata kadar antibodi spike-nya tidak terdeteksi karena memang mekanisme kerjanya berbeda,” kata Daniel Tjen, Rabu (6/10/2021).
Daniel menjelaskan, berbeda dengan vaksin Covid-19 yang ada, Vaksin Nusantara yang dikembangkan saat ini berbasis sel dendritik. Platform ini lebih banyak mengacu pada sel T memori. Inilah yang membuatnya berharap, vaksin Nusantara digunakan sebagai booster atau suntikan ketiga vaksin Covid-19.
Meski begitu, Covid-19 merupakan virus baru, sehingga belum bisa dibandingkan maupun ditentukan vaksin-vaksin mana yang paling baik.
Namun, lanjutnya, dari laporan yang didapatkannya, vaksin yang antibodinya menurun setelah tujuh bulan penyuntikan itu karena mekanisme kerjanya berbeda dengan Vaksin Nusantara.
“Pendekatan platform sel dendritik ini lebih banyak kita mengacu pada sel T-nya memorinya. Jadi besar harapan kita ini sekali lagi karena sifat sel dendritik imunoterapi itu untuk memperkuat imunitas maka kuat digunakan untuk menjadi vaksin booster apa pun,” bebernya.
“Vaksin yang digunakan sebagai vaksin dasarnya apa pun, karena pendekatannya berbeda. Pada saat ini memang penelitian untuk menggabungkan lebih dari 1 platform vaksin. Hanya kita semua sangat sedikit tahu tentang Sars-COV-2,” ujarnya.
Reporter: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi