Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Bahkan sudah sembilan bulan ini uang beasiswa itu belum cair. Sehingga, tidak sedikit dari mereka yang terpaksa harus bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan dipunya.

Salah satu mahasiswa S3 Australia penerima beasiswa 5.000 Doktor dari Kemenang dan LPDP, Imam Malik Ridwan mengakui jika dana beasiswa tersebut belum cair. Padahal, dalam beasiswa itu ada beberapa komponen, seperti tunjangan hidup bulanan, uang SPP (tuitition fee), biaya riset, biaya keikutsertaan konferensi, serta biaya tunjangan keluarga dan tunjangan pembelian buku.

’’Kami di sini benar-benar dalam kondisi sulit dan terpaksa kuliah sambil bekerja paruh waktu,’’ ujar Imam, dikutip dari Tempo.co, Sabtu (29/10/2022).

Baca: Pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit Diperpanjang Sampai 20 September, Buruan Daftar!

Imam mendapatkan beasiswa 5.000 Doktor dari Kemenag pada tahun 2019. Pada tahun pertama dan kedua, beasiswa lancer. Namun memasuki tahun ketiga mulai bermasalah.

Sebetulnya, tahun kedua ketika pandemi Covid-19, uang beasiswa juga bermasalah. Dana riset tidak diberikan sesuai kebutuhan. Masing-masing mahasiswa diberikan dengan angka yang berbeda termasuk tunjangan biaya hidup.

Di awal Januari 2022, lanjut Imam, beasiswa dialihkan ke LPDP dengan program joint The Ministry of Religious Affairs (MORA)-LPDP. Ketika itu, beasiswa macet. Kemenang hanya mentransferkan biaya SPP ke beberapa mahasiswa.
Baca: Kuliah Nyambi Parkir, Mahasiswa di Kudus Diberi Beasiswa Pemkab’’Saya dan beberapa orang sudah bayar SPP. Tapi, masih banyak yang belum. Ada kampus yang menagih sampai mengancam melapor ke imigrasi untuk mencabut visa. Tapi, untuk biaya hidup kami semua belum ditransfer,’’ ujarnya.Imam yang merupakan kandidat PhD di School of Social Sciences, Western Sydney University saat ini bekerja paruh waktu sebagai tenaga kebersihan di salah satu sekolah di Sydney Barat.’’Saya harus bekerja 6 jam per hari untuk bisa hidup sederhana. Saya menumpang pindah-pindah tempat tinggal agar bisa menekan biaya hidup’’ ujarnya. Penulis: Cholis AnwarEditor: Cholis AnwarSumber: Tempo.co

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler