Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Jakarta – Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruhan telah melaporkan hasil temuan yang dilakukan selama dua pekan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Usai memberikan laporan, tim yang dipimpin oleh Mahfud MD itu kemudian memberikan paparan.

Ketua TGIPF Mahfud MD mengatakan, proses jatuhnya korban dalam tragedi Kanjuruhan itu lebih mengerikan dari pada yang beredar di media sosial. Mahfud mengatakan demikian karena pihaknya telah melakukan rekonstruksi 32 CCTV yang dmiliki oleh aparat.

”jadi, itu lebih mengerikan dari pada sekedar semprot mati, semprot mati. Ada yang saling gandengan, satu bisa keluar tapi yang lain tidak. Kemudian ada yang kembali ke dalam untuk menyelamatkan temannya, kemudian terinjak-injak, mati,” kata Mahfud dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (14/10/2022).

Baca: Hari ini TGIPF Tragedi Kanjuruhan Lapor ke Presiden

Mahfud juga menyebut jika dalam tragedi Kanjuruhan itu, ada korban yang berusaha memberikan bantuan pernapasan. Lantaran kehabisan oksigen akibat tembakan gas air mata yang dikeluarkan oleh polisi.

”Dalam CCTV itu juga ada. Kena semprot kemudian mati. Ini lebih mengerikan dari pada yang kita lihat,” ungkapnya.

Mahfud MD kemudian memastikan jika yang meninggal dan kritis itu adalah karena berdesak-desakan dan terinjak-injak setelah ada gas air mata yang ditembakan oleh polisi.
”Itu penyebabnya,” tegas Mahfud.Baca: TGIPF Sebut Indosiar Minta Laga Arema FC Vs Persebaya Digelar MalamSementara untuk tingkat keberbahayaan racun dari gas air mata itu, saat ini tengah diperiksa oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).”Tetapi, apapun hasil dari pemeriksaan BRIN itu tidak bisa mengurangi kesimpulan bahwa kematian masal itu terutama disebabkan oleh gas air mata,” simpul Mahfud. Penulis: Cholis AnwarEditor: Cholis AnwarSumber: Youtube Sekretariat Presiden

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler