Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Jakarta- Pengusaha minyak goreng menuding bahwa biyang kerok kelangkaan miyak goreng dilakukan oleh para pedagang.  Pasalnya, dalam produksi sejauh ini tidak ada masalah, justru yang terjadi masalah adalah pada saat berada di pasar.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga mengatakan, dari sisi hulu, mulai dari suplai minyak sawit hingga produksi minyak goreng tak pernah ada masalah. Produksi olahan kelapa sawit CPO di Indonesia mencapai 49 juta ton di tahun 2022. Sementara kebutuhan dalam negeri sekitar 19 juta ton.

"Produksi begitu banyak betul pak. Tapi masalahnya bukan soal produksi pak. Kok hilang? Itu yang di pasar itu disparitas harga itu sebabkan hilang di pasar," katanya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR, dikutip dari detik.com, Kamis (31/3/2022).

"Sejak dibuat regulasi ada disparitas harga, kalau ada disparitas harga kalau tidak kontrol kuat, tidak ada kekuatan di negara ini mampu atasi itu. Even di negara komunis pun nggak bisa," imbuh Sahat.

Baca: Cerita Pedagang Grobogan: Beli Minyak Goreng Curah Wajib Belanja Minimal Rp 1 Juta Dulu

Dia menmabahkan, dalam hal ini pedagang minyak goreng dilakukan melakukan penahanan penjualan lantaran kebiijakan yang dikeluarkan pemerintah sering berubah-ubah. Stok yang ditahan menyiratkan pedagang sedang menunggu aturan kembali berubah.
Baca: Sempat Elus Dada dan Bertanya-Tanya Apakah Emak-Emak Hanya Bisa Menggoreng, Megawati Akan Hadiri Demo Masak Tanpa Minyak Goreng“Makanya, tak heran bila saat ada aturan HET minyak goreng, stok minyak goreng sulit ditemukan di pasar. Ketika HET dicabut baru lah minyak goreng membludak. Kenapa mereka menahan? Karena regulasi? Iya saya kira benar karena pedagang kita anggapnya wah sebentar lagi harga berubah," ungkap Sahat."Jadi semua kekuatan akal-akalan di lapangan, itu akal-akalan para pedagang juga, akalnya banyak pak bagaimana dia melihat penjualan berikutnya," lanjutnya. Penulis: Cholis AnwarEditor: Cholis AnwarSumber: Detik.com

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler