MURIANEWS, Jakarta- Adanya kendaraan
over load over dimension (
ODOL) diakui telah membuat kerusakan jalan Tol. Tidak hanya jalan Tol, jalan umum yang sering dileeati
ODOL pun akan cepat mengalami kerusakan.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Danang Parikesit. Dia mengatakan, kehadiran
ODOL menyebabkan kerusakan jalan tol dengan kerugian Rp 1 triliun per tahun.
"Kalau di jalan tol perkiraan kami, at least conservative number (setidaknya dalam angka konservatif) kita Rp 1 triliun per tahun," jelas Danang, dikutip dari
Kompas.com, Kamis (3/3/2022).
Sementara kerugian untuk jalan, berdasarkan referensi Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian PUPR, totalnya mencapai Rp 43 triliun setiap tahunnya.
Baca:
Sopir Tak Bisa Jadi Tersangka Over Dimension, Ini Penjelasan Polda Jateng soal Aturan ODOLDengan adanya fenomena ini, Kementerian PUPR bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam mendeteksi kendaraan ODOL melalui teknologi
Weigh in Motion (WIM).
"Saat ini, teknologi WIM untuk pengendalian kendaraan ODOL sudah mulai diuji coba di Jalan Tol Tangerang-Merak," terangnya.
Sedangkan pengendalian
ODOL akan menggunakan scanner dimensi yang terpasang pada kamera dan timbangan pengukuran pada jalan. Dengan begitu, berat kendaraan tetap bisa diukur saat kendaraan masih berjalan.
Baca:
Soal Tuntutan Revisi Aturan ODOL, Kadishub Kudus Janjikan IniDanang menyebutkan, Kementerian PUPR berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas infrastruktur
jalan tol untuk menciptakan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Peningkatan pelayanan jalan tol ini tidak hanya sebatas mengejar tercapainya standar pelayanan minimal (SPM).
Baca:
Sopir Truk Kudus Sebenarnya Terima Aturan ODOL, Asal…"Tetapi, juga meningkatkan kualitas layanan jalan tol secara berkelanjutan seiring kebutuhan dan permintaan masyarakat yang semakin tinggi," imbuhnya.Dagang menambahkan, di tengah Pandemi Covid-19, korporasi jalan tol fokus pada 3 strategi yaitu kepemimpinan biaya, peningkatan pendapatan, manajemen pembayaran. Ditambah juga dengan pemanfaatan aplikasi digital untuk efektivitas dan pengalaman pengguna yang lebih baik. Penulis: Cholis AnwarEditor: Cholis AnwarSumber:
Kompas.com
[caption id="attachment_273930" align="alignleft" width="880"]

Petugas mengamankan aksi sopir truk di Kudus yang menggelar aksi revisi UU yang mengatur ODOL. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)[/caption]
MURIANEWS, Jakarta- Adanya kendaraan
over load over dimension (
ODOL) diakui telah membuat kerusakan jalan Tol. Tidak hanya jalan Tol, jalan umum yang sering dileeati
ODOL pun akan cepat mengalami kerusakan.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Danang Parikesit. Dia mengatakan, kehadiran
ODOL menyebabkan kerusakan jalan tol dengan kerugian Rp 1 triliun per tahun.
"Kalau di jalan tol perkiraan kami, at least conservative number (setidaknya dalam angka konservatif) kita Rp 1 triliun per tahun," jelas Danang, dikutip dari
Kompas.com, Kamis (3/3/2022).
Sementara kerugian untuk jalan, berdasarkan referensi Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian PUPR, totalnya mencapai Rp 43 triliun setiap tahunnya.
Baca:
Sopir Tak Bisa Jadi Tersangka Over Dimension, Ini Penjelasan Polda Jateng soal Aturan ODOL
Dengan adanya fenomena ini, Kementerian PUPR bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam mendeteksi kendaraan ODOL melalui teknologi
Weigh in Motion (WIM).
"Saat ini, teknologi WIM untuk pengendalian kendaraan ODOL sudah mulai diuji coba di Jalan Tol Tangerang-Merak," terangnya.
Sedangkan pengendalian
ODOL akan menggunakan scanner dimensi yang terpasang pada kamera dan timbangan pengukuran pada jalan. Dengan begitu, berat kendaraan tetap bisa diukur saat kendaraan masih berjalan.
Baca:
Soal Tuntutan Revisi Aturan ODOL, Kadishub Kudus Janjikan Ini
Danang menyebutkan, Kementerian PUPR berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas infrastruktur
jalan tol untuk menciptakan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Peningkatan pelayanan jalan tol ini tidak hanya sebatas mengejar tercapainya standar pelayanan minimal (SPM).
Baca:
Sopir Truk Kudus Sebenarnya Terima Aturan ODOL, Asal…
"Tetapi, juga meningkatkan kualitas layanan jalan tol secara berkelanjutan seiring kebutuhan dan permintaan masyarakat yang semakin tinggi," imbuhnya.
Dagang menambahkan, di tengah Pandemi Covid-19, korporasi jalan tol fokus pada 3 strategi yaitu kepemimpinan biaya, peningkatan pendapatan, manajemen pembayaran. Ditambah juga dengan pemanfaatan aplikasi digital untuk efektivitas dan pengalaman pengguna yang lebih baik.
Penulis: Cholis Anwar
Editor: Cholis Anwar
Sumber:
Kompas.com