MURIANEWS, Poso- Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir dalam acar peresmian PLTA Poso Energy 515 MW dan
PLTA Malea Energy 90MW di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). PLTA tersebut merupakan milik Kalla Grup yang digawangi oleh Mantan wakil Presiden ke-10 dan ke-12,
Jusuf Kalla (JK).
Sebelum Jokowi meresmikan, JK kali pertama memberikan laporan terkait pembangunan dan rencana kedepan untuk PLTA tersebut. Saat pertengahan acara, JK bercerita bahwa 80 pekerja nantinya adalah dari warga Poso. Sementara 20 perlain lainnya elibatkan tenaga ahli yang diutamakan dari Indonesia.
JK mengatakan, dalam proses negosiasi pembangunan PLTA di Poso ini kepad PLN, pihaknya mengaku membutuhkan waktu hingga 5 tahun. Kemudian di Kerinci proses negosiasinya lebih lama. Padahal, proses negosiasi ini seharusnya bisa dipersingkat, apalagi ini terkait pembangunan
PLTA.
Baca: Siap-Siap, PLN Lakukan Pemadaman Listrik di Jepara Dua Hari"Tentu untuk mencapai bagaimana mencapai 23 persen dan seterusnya itu dibutuhkan beberapa hal mempercepat proses di PLN. tadi Pak Dirut sudah paham bagaimana mempercepat proses negosiasi, ini negosiasinya 5 tahun Pak, baru negosiasi 5 tahun. Mengerjakan 7 tahun, jadi 12 tahun. Di Kerinci juga butuh negosiasi lebih dari 5 tahun, tapi Insyallah dengan pimpinan baru dan juga tentu keputusan Bapak, negosiasinya bisa lebih diperpendek, mungkin setahun cukup," beber JK dilihat dari siaran langsung di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (25/2/2022)
JK menuturkan banyak orang yang ingin membangun PLTA. Namun kemudian mundur karena birokrasi yang panjang.
"Begitu banyak orang yang mau membangun Pak, terutama PLTA ini. Tapi tidak bisa maju karena soal-soal birokrasinya, bukan teknisnya karena ini birokrasinya yang lambat sekali. Apabila diperbaiki saya yakin di seluruh Indonesia bergerak itu para pengusaha-pengusaha," ucap JK.
Baca: Investor di Jateng Diminta Beri Saham untuk Warga DesaJK bercerita saat mencari pekerja yang bisa mengerjakan turbin PLTA secara presisi. Awalnya Kalla Group menghubungi salah satu perusahaan, namun mereka menyatakan tidak bisa. Akhirnya pekerjaan itu bisa diselesaikan oleh pekerja dari Sukabumi yang merupakan lulusan STM."Ada sedikit ilustrasi Pak yang paling sulit di sistem membangun itu, turbinnya Pak. Turbin itu beratnya 80 ton, bagaimana memasangnya, yang satu mili pun tidak boleh salah. Karena kalau begitu, satu mili bisa rusak dia, jadi harus betul presisi. Mula-mula kita minta satu perusahaan Wijaya Karya tidak bisa. Kita tidak putus asa, sampai ketemu tim dari Sukabumi Pak, tamatan STM, bekerja di luar negeri," ujar JK. Penulis: Cholis AnwarEditor: Cholis AnwarSumber: Youtube Sekretariat presiden
[caption id="attachment_274614" align="alignleft" width="880"]

Jusuf Kalla saat memberikan laporan progres pembangunan PLTA di Poso (tangkapan layar)[/caption]
MURIANEWS, Poso- Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir dalam acar peresmian PLTA Poso Energy 515 MW dan
PLTA Malea Energy 90MW di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). PLTA tersebut merupakan milik Kalla Grup yang digawangi oleh Mantan wakil Presiden ke-10 dan ke-12,
Jusuf Kalla (JK).
Sebelum Jokowi meresmikan, JK kali pertama memberikan laporan terkait pembangunan dan rencana kedepan untuk PLTA tersebut. Saat pertengahan acara, JK bercerita bahwa 80 pekerja nantinya adalah dari warga Poso. Sementara 20 perlain lainnya elibatkan tenaga ahli yang diutamakan dari Indonesia.
JK mengatakan, dalam proses negosiasi pembangunan PLTA di Poso ini kepad PLN, pihaknya mengaku membutuhkan waktu hingga 5 tahun. Kemudian di Kerinci proses negosiasinya lebih lama. Padahal, proses negosiasi ini seharusnya bisa dipersingkat, apalagi ini terkait pembangunan
PLTA.
Baca: Siap-Siap, PLN Lakukan Pemadaman Listrik di Jepara Dua Hari
"Tentu untuk mencapai bagaimana mencapai 23 persen dan seterusnya itu dibutuhkan beberapa hal mempercepat proses di PLN. tadi Pak Dirut sudah paham bagaimana mempercepat proses negosiasi, ini negosiasinya 5 tahun Pak, baru negosiasi 5 tahun. Mengerjakan 7 tahun, jadi 12 tahun. Di Kerinci juga butuh negosiasi lebih dari 5 tahun, tapi Insyallah dengan pimpinan baru dan juga tentu keputusan Bapak, negosiasinya bisa lebih diperpendek, mungkin setahun cukup," beber JK dilihat dari siaran langsung di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (25/2/2022)
JK menuturkan banyak orang yang ingin membangun PLTA. Namun kemudian mundur karena birokrasi yang panjang.
"Begitu banyak orang yang mau membangun Pak, terutama PLTA ini. Tapi tidak bisa maju karena soal-soal birokrasinya, bukan teknisnya karena ini birokrasinya yang lambat sekali. Apabila diperbaiki saya yakin di seluruh Indonesia bergerak itu para pengusaha-pengusaha," ucap JK.
Baca: Investor di Jateng Diminta Beri Saham untuk Warga Desa
JK bercerita saat mencari pekerja yang bisa mengerjakan turbin PLTA secara presisi. Awalnya Kalla Group menghubungi salah satu perusahaan, namun mereka menyatakan tidak bisa. Akhirnya pekerjaan itu bisa diselesaikan oleh pekerja dari Sukabumi yang merupakan lulusan STM.
"Ada sedikit ilustrasi Pak yang paling sulit di sistem membangun itu, turbinnya Pak. Turbin itu beratnya 80 ton, bagaimana memasangnya, yang satu mili pun tidak boleh salah. Karena kalau begitu, satu mili bisa rusak dia, jadi harus betul presisi. Mula-mula kita minta satu perusahaan Wijaya Karya tidak bisa. Kita tidak putus asa, sampai ketemu tim dari Sukabumi Pak, tamatan STM, bekerja di luar negeri," ujar JK.
Penulis: Cholis Anwar
Editor: Cholis Anwar
Sumber: Youtube Sekretariat presiden