Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


"Ini sejarah pertama ya. Tahun 2020 menjadi pemilihan kepala daerah pertama yang diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19," kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman dalam rilisnya di situs resmi penanganan Covid-19.

Meskipun begitu, Pilkada 2020 ini merupakan momen penting karena dalam pelaksanaannya akan menjadi dasar dan pijakan bagi generasi mendatang jika dihadapkan dalam situasi seperti ini, yaitu pandemi Covid-19.

"Kebetulan sekarang virusnya corona. Suatu saat bisa saja ada virus yang lain. Maka hari ini kita tidak hanya membuat sejarah secara teknis pelaksanaannya, tetapi juga regulasinya. Kemudian, model pelaksanaannya, kulturnya. Ini penting untuk bisa menjadi model di masa yang akan datang," ucap Arief.

Sebelumnya, pilkada serentak kalima ini akan digelar 23  September 2020 lalu. Namun, karena sedang pandemi, Presiden Jokowi memutuskan untuk mengundur jadwal pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 menjadi hari ini, 9 Desember 2020.

Meski telah diundur, penyelenggaraan Pilkada 2020 ini banyak penolakan dari berbagai pihak. Hal ini mengingat situasi pandemi Covid-19 yang masih menyelimut Tanah Air bahkan cenderung meningkat.

Penolakan tersebut juga salah satunya berasal dari Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

"Pandemi Covid-19 telah berdampak meningkatnya jumlah korban dan kerugian harta benda, meluasnya cakupan wilayah yang terkena bencana, serta menimbulkan implikasi pada aspek sosial ekonomi yang luas di Indonesia," terang Ketua Komite I DPD RI, Agustin Teras Narang, dikutip Solopos.com.
Menurut Teras, Pilkada Serentak 2020 ini akan melibatkan jumlah pemilik hingga ratusan jiwa atau tepatnya 150 juta orang. Di mana hal ini bisa mengancam keselamatan jiwa pemilih dan juga penyelenggara pemilu."Kami mempertimbangkan pula sampai saat ini jumlah korban yang terinfeksi Covid-19 masih terus bertambah serta belum menunjukkan kecenderungan akan melandai apalagi berakhir," tambah dia.Berbagai penolakan tak menyurutkan Presiden Jokowi untuk tetap menggelar pesta demokrasi ini. Menurut Jokowi, pandemi Covid-19 tidak ada yang tahu akan berakhir kapan, sehingga Pilkada 2020 harus tetap berjalan."Situasi tidak bisa dibiarkan, penyelenggaraaan pilkada harus tetap dilakukan. Tidak bisa menunggu sampai pandemi berakhir karena memang kita tidak tahu, negara mana pun tidak tahu kapan pandemi Covid-19 ini berakhir," jelas Jokowi, Selasa (8/9/2020) lalu. Penulis: SupriyadiEditor: SupriyadiSumber: Solopos.com

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler