Jika Ibukota Dipindah, Begini Dampak Bisnis Properti di Jakarta
Murianews
Kamis, 2 Mei 2019 12:21:28
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Berdasarkan data dari platform real estat global Lamudi.co.id, saat ini Jakarta menjadi kota paling favorit dicari oleh pencari rumah dengan area pencarian terbanyak berada di kawasan Jakarta Selatan.
Rata-rata harga rumah di Jakarta yang paling murah dijual Rp 11 juta per meter persegi. Sementara termahal bisa mencapai Rp 62 juta per meter persegi.
Mart Polman, Managing Director Lamudi.co.id menilai, rencana pemindahan ibukota justru bisa berdampak positif terhadap bisnis properti di Jakarta. Karena meski tidak menjadi ibu kota lagi, Jakarta akan tetap menjadi pusat perekonomian. Sehingga aktivitas jual beli properti tidak akan terganggu dengan masalah politik dan pemerintahan.
“Khusus untuk properti kelas atas memang sangat berpengaruh terhadap kondisi politik dan ekonomi. Jadi jika ibu kota berpindah maka bisnis jual beli properti untuk segmen atas akan tetap terjaga,“ kata Mart dalam siaran pers yang diterima MURIANEWS.com, Kamis (2/5/2019).
Mart juga tetap meyakini bahwa kebutuhan hunian di Jakarta akan tetap tinggi. Karena kota ini memiliki pasar properti yang sudah terbentuk. Terutama untuk segmen hunian vertikal yang terkoneksi dengan moda transportasi LRT, busway dan MRT.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



