MURIANEWS, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat berharap agar bangga terhadap produk buatan Indonesia tidak hanya sekadar slogan. Pasalnya, tengah terjadi persaingan keta tantara produk lokal dalam negeri dengan produk impor.
Sehingga diperlukan upaya transformasi menyeluruh agar bangga buatan Indonesia tidak menjadi cara untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan negara serta harga diri sebagai bangsa.
"Era digitalisasi saat ini menciptakan persaingan di pasar yang lebih ketat atas barang dan jasa yang dihasilkan, sehingga diperlukan upaya perbaikan yang menyeluruh agar produksi dalam negeri mampu menjawab permintaan pasar," kata Lestari saat membuka diskusi daring bertema Membumikan Bangga Buatan Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12.
Menurut Lestari, persaingan ketat antara produk lokal dan impor harus mendorong upaya agar menumbuhkan rasa bangga buatan Indonesia. Yakni lewat peningkatan kualitas barang dan jasa dalam negeri.
“Karena, berdasarkan pengamatan Center of Economics and Law Studies (Celios) sejak dulu memang tidak ada perbaikan yang signifikan dari pemerintah tentang pengadaan barang dan jasa di kementerian dan lembaga terkait penggunaan produk dalam negeri,” ujar Rerie, sapaan akrab Lestari.
Baca: Jokowi Geram, Ada Produk Impor yang Distempel Made In IndonesiaRerie, yang juga anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, sangat berharap para pemangku kepentingan mampu menghilangkan gap yang terjadi antara kebutuhan pasar dan kualitas produk yang diinginkan konsumen.
”Karena sejatinya, semangat anak bangsa untuk bangga menggunakan produk dalam negeri merupakan bagian dari upaya membangun ketahanan dan kedaulatan negara serta harga diri bangsa,” terangnya.
”Karena sejatinya, semangat anak bangsa untuk bangga menggunakan produk dalam negeri merupakan bagian dari upaya membangun ketahanan dan kedaulatan negara serta harga diri bangsa,” terangnya.Sementara Plt Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhi mengungkapkan, lembaganya yang baru berdiri 21 Februari 2022 berfungsi sebagai stabilisator harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat.Menurut Sarwo Edhi, sejumlah produk bahan pokok yang saat ini diimpor, disebabkan karena produksi dalam negeri belum mencukupi permintaan di dalam negeri.IGK Astawa, Sesditjen Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag RI sependapat untuk mewujudkan bangga buatan Indonesia perlu kolaborasi semua pihak.Menurut IGK Astawa, sejumlah upaya bisa dilakukan agar bangga buatan Indonesia membumi antara lain dengan meningkatkan proporsi penggunaan produk dalam negeri pada kementerian dan Lembaga.“Peningkatan kualitas produk dalam negeri agar bisa diterima masyarakat, dan peningkatan kesediaan produsen untuk pakai kandungan lokal yang lebih tinggi,” tegasnya. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha
[caption id="attachment_281426" align="alignleft" width="1280"]

Diskusi daring bertema Membumikan Bangga Buatan Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12. (MURIANEWS/Istimewa)[/caption]
MURIANEWS, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat berharap agar bangga terhadap produk buatan Indonesia tidak hanya sekadar slogan. Pasalnya, tengah terjadi persaingan keta tantara produk lokal dalam negeri dengan produk impor.
Sehingga diperlukan upaya transformasi menyeluruh agar bangga buatan Indonesia tidak menjadi cara untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan negara serta harga diri sebagai bangsa.
"Era digitalisasi saat ini menciptakan persaingan di pasar yang lebih ketat atas barang dan jasa yang dihasilkan, sehingga diperlukan upaya perbaikan yang menyeluruh agar produksi dalam negeri mampu menjawab permintaan pasar," kata Lestari saat membuka diskusi daring bertema Membumikan Bangga Buatan Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12.
Menurut Lestari, persaingan ketat antara produk lokal dan impor harus mendorong upaya agar menumbuhkan rasa bangga buatan Indonesia. Yakni lewat peningkatan kualitas barang dan jasa dalam negeri.
“Karena, berdasarkan pengamatan Center of Economics and Law Studies (Celios) sejak dulu memang tidak ada perbaikan yang signifikan dari pemerintah tentang pengadaan barang dan jasa di kementerian dan lembaga terkait penggunaan produk dalam negeri,” ujar Rerie, sapaan akrab Lestari.
Baca: Jokowi Geram, Ada Produk Impor yang Distempel Made In Indonesia
Rerie, yang juga anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, sangat berharap para pemangku kepentingan mampu menghilangkan gap yang terjadi antara kebutuhan pasar dan kualitas produk yang diinginkan konsumen.
”Karena sejatinya, semangat anak bangsa untuk bangga menggunakan produk dalam negeri merupakan bagian dari upaya membangun ketahanan dan kedaulatan negara serta harga diri bangsa,” terangnya.
Sementara Plt Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhi mengungkapkan, lembaganya yang baru berdiri 21 Februari 2022 berfungsi sebagai stabilisator harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat.
Menurut Sarwo Edhi, sejumlah produk bahan pokok yang saat ini diimpor, disebabkan karena produksi dalam negeri belum mencukupi permintaan di dalam negeri.
IGK Astawa, Sesditjen Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag RI sependapat untuk mewujudkan bangga buatan Indonesia perlu kolaborasi semua pihak.
Menurut IGK Astawa, sejumlah upaya bisa dilakukan agar bangga buatan Indonesia membumi antara lain dengan meningkatkan proporsi penggunaan produk dalam negeri pada kementerian dan Lembaga.
“Peningkatan kualitas produk dalam negeri agar bisa diterima masyarakat, dan peningkatan kesediaan produsen untuk pakai kandungan lokal yang lebih tinggi,” tegasnya.
Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha